LUKA IBUKU SAMPAI KE LIANG KUBUR
==============================
Kisah Nyata Seorang Istri Tentara.
Tali ikat pinggang serta sepatu tentara milik ayah kelak akan bersaksi di hadapan Tuhan bahwa betapa kejamnya ia pada ibu.
Sudah tak berbilang tali ikat pinggang itu dijadikan cambuk untuk melampiaskan amarah. Tak ketinggalan sepatu kulit khas milik para tentara ia gunakan untuk menendang dan menginjak-injak ibu.
Amarah ayahku gampang sekali tersulut. Terbakar seperti si jago merah melahap kayu kering. Berkobar, menyala-nyala. Belum lagi tiap marah selalu melontarkan kata ingin menceraikan ibu. Kata-kata itu sudah tak berbilang dilisankan ayah.
Tangan kokoh ayahku bukannya digunakan untuk melindungi, malah lebih banyak difungsikan untuk menampar ibu. Pun, aku dan adik-adikku tak luput dari hantaman tangannya, kami (ibu, aku dan dua adikku) sudah kenyang dengan pukulan ayah. Semua itu masih terekam jelas di memoriku sewaktu kecil dahulu.
***
Tidak hanya dalam keluarga kami perangai ayah sedemikian buas. Tapi tabiat dan perilakunya terhadap orang tua sendiripun naudzubillah mindzalik, sungguh error tiada tara, hang tak tertandingi.
Saat ayah minta uang pada kakek dan tidak segera dituruti maka seketika ia akan mengamuk seperti singa kelaparan. Pernah suatu ketika ayah melepaskan tembakan ke atap rumah dan membuat kakek pingsan saking kagetnya. Pernah pula kakek didorong sampai tersungkur hingga akhirnya kakek dibawa ke rumah sakit.
Tidak ada satupun orang yang suka pada ayah, saudaranya saja tidak ada yang suka. Bahkan oleh paman, ayah diberi gelar Malin Kundangnya (titik titik titik #sensor ) saking jengkelnya. Di kesatuannyapun ayah pernah diberi sanksi dimasukkan dalam tahanan militer. Sungguh pembuat onar super tangguh.
Jika keluarga dan kerabat saja tidak ada yang suka lebih-lebih tetangga dan warga sekitar. Semua kompak berjamaah membenci ayah, malah warga jauh-jauh hari sudah menitip pesan agar ayah tidak dimakamkan di kampung tersebut saat meninggal nanti. Tanah kelahirannyapun ikut-ikutan menolak jasad ayah kelak.
***
Ayah dan ibu tidak dijodohkan, tapi mereka sama-sama sepakat untuk menapaki jenjang yang lebih serius.
Namun, sejak menikah sampai ibu berpulang, bukan hanya kekerasan fisik dan kekerasan verbal yang dialaminya bahkan urusan finansialpun ia tak pernah tahu menahu gaji ayah sebagai anggota militer, pun uang itu diapakan dan dikemanakan ibu tak pernah tahu.
Untuk menyambung hidup, ibu mencoba peruntungan dengan menjual gorengan, nasi campur, nasi pecel dan kerupuk. Sungguh lisannya tak berani mengucapkan sepatah kata untuk sekedar minta pembeli lauk, pun tangannya tak ada daya untuk menengadah meminta rupiah, meski hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan keperluan keluarga.
Karena kondisi keuangan ibu semakin memburuk maka ibu nekat untuk menjadi TKW selama 2 tahun di Malaysia.
Berselang dari Malaysia beliau kemudian mengadu nasib ke Pulau Borneo mencoba mengarungi derasnya arus kehidupan kurang lebih 5 tahun.
Di Pulau Borneo ibu tinggal di hutan, menjadi tukang masak untuk penebang pohon. Kaki ibu menyisakan bekas luka karena sering terjatuh. Kulit ibu juga gatal-gatal karena mandinya menggunakan air payau.
Setelah 2 tahun tinggal dan bekerja dalam hutan, ibu kemudian pindah kerja di rumah sakit untuk menyiapkan makanan dan memasak untuk pasien-pasien yang dirawat. Ibu bertahan bekerja di rumah sakit kurang lebih 3 tahun.
Jangan tanyakan soal apakah ayah mengizinkan ibu merantau atau tidak karena faktanya malah ayah menyuruh ibu cepat-cepat hengkang. Ibu menggenggam luka kemanapun kakinya menapak. Suami yang harusnya menjadi sandaran malah menjadi pemantik perih.
Oia, ibuku memang ibu persit tapi tidak mau lagi melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan rutin karena sibuk banting tulang untuk menyambung nyawanya dan nyawa anak-anaknya. Selain itu, ibu juga trauma ikut kegiatan yang melibatkan istri tentara karena ayah sering mempermalukannya depan umum.
***
Karena batin yang terkoyak dan raga yang sering disakiti oleh ayah selama bertahun-tahun membuat kesehatan ibu menurun. Di perantauan beliau juga sakit-sakitan hingga akhirnya memutuskan untuk pulang.
Demi ibu, aku dan adik membeli perumahan dengan cara dikredit. Sepulang dari Kalimantan ibu tidak mau balik ke rumah yang selama ini menjadi tempat bernaung kami saat kecil. Ibu tak sudi untuk jumpa dengan ayah. Beliau memutuskan untuk tinggal di rumah kami.
Nah, ketika ayah bertandang ke rumah mungil kami, kami main kucing-kucingan layaknya Tom and Jerry. Ibu kami umpetin agar ayah tidak tau keberadaannya. Sungguh trauma ibu pada ayah setinggi gunung Himalaya.
***
Penyakit asam urat yang diderita ibu semakin parah hingga membuat beliau tidak bisa jalan. Tidak hanya asam urat, beliau juga diabetes. Badannya makin hari makin kurus.
Mengingat kondisi kesehatan ibu semakin parah maka kami segera melarikannya ke rumah sakit. Aku menemani hari-hari ibu di rumah sakit, merawatnya penuh kasih.
Sudah cukup ia merasakan kepahitan dan kegetiran hidup. Bertahun-tahun ibu tidak pernah merasakan ketentraman, kenyamanan dan kehangatan dalam mengarungi biduk rumah tangga bersama ayah. Satu-satunya alasan ibu bertahan adalah demi kami anak-anaknya.
Saat dirawat di rumah sakit, ibu melarang kami untuk memberi tahu ayah, bahkan kepulangan beliau dari tanah rantaupun tak dikabarkan juga pada ayah.
***
Di ranjang rumah sakit, ibu selalu memintaku untuk membacakan yasin setiap beliau selesai shalat.
Tanggal 24 Februari 2020, pukul 15.00 WIB menjelang ashar, pelan-pelan kugenggam jemari perempuan yang telah berkorban begitu banyak untuk kami buah hatinya. Bahkan rela bertahan dengan sikap kasar dan temperamen ayah demi kami. Ibu tak ingin kami kehilangan sosok ayah, walau sebenarnya bukan ayah seperti itu yang kami inginkan.
Kubisikkan tanya yang sebenarnya aku sendiri menahan getar di tepi bibir.
"Ibu capek? Ibu ingin istrahat?" sudut mataku digenangi air. Satu kedipan, bulir air itu berjatuhan.
"Aku sudah ikhlas, bu, pergilah." Bisikku dengan nafas memburu, ada sesak yang mengganjal di tenggorokan. 'Kasihan ibu bertahun-tahun menahan sakit,' gumamku menahan gemuruh yang membuncah.
Aku kemudian menuntun ibu membaca shalawat, istigfar dan syahadat.
Pukul 21.30 sebelum aku beranjak tidur, ibu masih bernafas. Kemudian pukul 02 dini hari alarm hp berbunyi. Alarm untuk membangunkanku menunaikan qiyamul lail.
Saat dalam kamar mandi, tiba-tiba teringat ibu. Aku bergegas untuk melihatnya terlebih dahulu sebelum berwudhu.
Lututku serasa tak bertulang, seluruh tubuh gemetar, nafas serasa berdesakan melalui kerongkongan, lidah mendadak kelu dan air mataku tumpah demi melihat jasad ibu sudah terbujur kaku.
Mataku menyaksikan posisi ibu yang sepertinya benar-benar sudah siap menyambut kematiannya. Tangannya terlipat rapi, persis saat bersedekap setelah takbiratul ihram. Wajah ibu seolah berseri dan tersenyum.
''Innalillahi wa inna ilaihi rajiun," lirihku, gagu. Beliau tutup usia 64 tahun.
Tangisku tak kunjung mereda, teringat semua penderitaan ibu selama ini. Kesabaran ibu tanpa batas hingga menghembuskan nafas terakhir. Kesabaran dan keikhlasan ia balut begitu erat sampai di penghujung hayatnya.
Ibu pergi dengan luka yang begitu mendalam pada suaminya, sampai-sampai saat sakit beliau berwasiat agar kabar kematiannya suatu saat nanti jangan disampaikan pada ayah.
***
Pukul 3.30 dini hari jenazah ibu dibawa pulang. Rencana pemakaman pukul 11 siang tapi karena pak RT/RW, tetangga dan tokoh masyarakat begitu antusias membantu sehingga pukul 09.00 pagi semuanya sudah kelar. Mulai dari memandikan, menshalatkan hingga liang kuburpun telah selesai digali.
Setelah di pemakaman, para tokoh masyarakat menyarankan agar ayah ditunggu untuk jumpa dengan ibu untuk yang terakhir kalinya. Aku dan adik menyetujui.
Ditunggu, ditunggu dan ditunggu sampai duhur tapi ayah tak kunjung tiba. Kabarnya mobil yang ayah tumpangi kesasar, mutar-mutar aja di tol. Sungguh Allah menunjukkan kuasanya pada suami yang mendzolimi istri.
Akhirnya tanpa menunggu lagi, ibu dikebumikan. Mungkin inilah yang sudah digariskan Allah dan do'a ibu yang diijabah semasa hidup, tidak ingin lagi berjumpa dengan ayah walau nafas sudah diujung kerongkongan sekalipun.
Tidurlah dalam peristrahatan yang abadi ibu, semoga kelak engkau menjadi bidadari surga. Aamiin.
***
Setelah kepergian ibu, apakah ayah menyesal? Sepertinya tidak, karena sedikitpun ayah tidak bertanya padaku perihal ibu. Justru yang bertanya adalah para kerabat.
Saat aku menceritakan kondisi kesehatan serta kronologis kematian ibu, ayah malah bergeming dari depan layar kaca sembari pencat pencet remot mencari channel pavorit. Sungguh ayah berhati karang.
End.
NB:
Tidak semua tentara seperti kisah nyata di atas, beliau hanya oknum. Saripati hikmah yang bisa kita petik adalah kesabaran tak bertepi dari seorang istri mengantarnya pada ujung kehidupan yang insya Allah husnul khatimah.
Jika dunia sang ibu persit suram dan kelam, insya Allah di akhirat akan benderang oleh cahaya keikhlasan dan kesabaran yang beliau semai ketika di dunia.
**Nurbaya Tanpa Siti
Makassar, 05 Mei 2020
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213628918036036&id=1796337115
Tidak ada komentar:
Posting Komentar