Selasa, 05 Mei 2020

Sepenggal kisah

LUKA IBUKU SAMPAI KE LIANG KUBUR
==============================
Kisah Nyata Seorang Istri Tentara.

Tali ikat pinggang serta sepatu tentara milik ayah kelak akan bersaksi di hadapan Tuhan bahwa betapa kejamnya ia pada ibu.

Sudah tak berbilang tali ikat pinggang itu dijadikan cambuk untuk melampiaskan amarah. Tak ketinggalan sepatu kulit khas milik para tentara ia gunakan untuk menendang dan menginjak-injak ibu.

Amarah ayahku gampang sekali tersulut. Terbakar seperti si jago merah melahap kayu kering. Berkobar, menyala-nyala. Belum lagi tiap marah selalu melontarkan kata ingin menceraikan ibu. Kata-kata itu sudah tak berbilang dilisankan ayah.

Tangan kokoh ayahku bukannya digunakan untuk melindungi, malah lebih banyak difungsikan untuk menampar ibu. Pun, aku dan adik-adikku tak luput dari hantaman tangannya, kami (ibu, aku dan dua adikku) sudah kenyang dengan pukulan ayah. Semua itu masih terekam jelas di memoriku sewaktu kecil dahulu.

***
Tidak hanya dalam keluarga kami perangai ayah sedemikian buas. Tapi tabiat dan perilakunya terhadap orang tua sendiripun naudzubillah mindzalik, sungguh error tiada tara, hang tak tertandingi.

Saat ayah minta uang pada kakek dan tidak segera dituruti maka seketika ia akan mengamuk seperti singa kelaparan. Pernah suatu ketika ayah melepaskan tembakan ke atap rumah dan membuat kakek pingsan saking kagetnya. Pernah pula kakek didorong sampai tersungkur hingga akhirnya kakek dibawa ke rumah sakit.

Tidak ada satupun orang yang suka pada ayah, saudaranya saja tidak ada yang suka. Bahkan oleh paman, ayah diberi gelar Malin Kundangnya (titik titik titik #sensor ) saking jengkelnya. Di kesatuannyapun ayah pernah diberi sanksi dimasukkan dalam tahanan militer. Sungguh pembuat onar super tangguh.

Jika keluarga dan kerabat saja tidak ada yang suka lebih-lebih tetangga dan warga sekitar. Semua kompak berjamaah membenci ayah, malah warga jauh-jauh hari sudah menitip pesan agar ayah tidak dimakamkan di kampung tersebut saat meninggal nanti. Tanah kelahirannyapun ikut-ikutan menolak jasad ayah kelak.
***

Ayah dan ibu tidak dijodohkan, tapi mereka sama-sama sepakat untuk menapaki jenjang yang lebih serius.
Namun, sejak menikah sampai ibu berpulang, bukan hanya kekerasan fisik dan kekerasan verbal yang dialaminya bahkan urusan finansialpun ia tak pernah tahu menahu gaji ayah sebagai anggota militer, pun uang itu diapakan dan dikemanakan ibu tak pernah tahu.

Untuk menyambung hidup, ibu mencoba peruntungan dengan menjual gorengan, nasi campur, nasi pecel dan kerupuk. Sungguh lisannya tak berani mengucapkan sepatah kata untuk sekedar minta pembeli lauk, pun tangannya tak ada daya untuk menengadah meminta rupiah, meski hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan keperluan keluarga.

Karena kondisi keuangan ibu semakin memburuk maka ibu nekat untuk menjadi TKW selama 2 tahun di Malaysia.

Berselang dari Malaysia beliau kemudian mengadu nasib ke Pulau Borneo mencoba mengarungi derasnya arus kehidupan kurang lebih 5 tahun.

Di Pulau Borneo ibu tinggal di hutan, menjadi tukang masak untuk penebang pohon. Kaki ibu menyisakan bekas luka karena sering terjatuh. Kulit ibu juga gatal-gatal karena mandinya menggunakan air payau.

Setelah 2 tahun tinggal dan bekerja dalam hutan, ibu kemudian pindah kerja di rumah sakit untuk menyiapkan makanan dan memasak untuk pasien-pasien yang dirawat. Ibu bertahan bekerja di rumah sakit kurang lebih 3 tahun.

Jangan tanyakan soal apakah ayah mengizinkan ibu merantau atau tidak karena faktanya malah ayah menyuruh ibu cepat-cepat hengkang. Ibu menggenggam luka kemanapun kakinya menapak. Suami yang harusnya menjadi sandaran malah menjadi pemantik perih.

Oia, ibuku memang ibu persit tapi tidak mau lagi melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan rutin karena sibuk banting tulang untuk menyambung nyawanya dan nyawa anak-anaknya. Selain itu, ibu juga trauma ikut kegiatan  yang melibatkan istri tentara karena ayah sering mempermalukannya depan umum.
***

Karena batin yang terkoyak dan raga yang sering disakiti oleh ayah selama bertahun-tahun membuat kesehatan ibu menurun. Di perantauan beliau juga sakit-sakitan hingga akhirnya memutuskan untuk pulang.

Demi ibu, aku dan adik membeli perumahan dengan cara dikredit. Sepulang dari Kalimantan ibu tidak mau balik ke rumah yang selama ini menjadi tempat bernaung kami saat kecil. Ibu tak sudi untuk jumpa dengan ayah. Beliau memutuskan untuk tinggal di rumah kami.

Nah, ketika ayah bertandang ke rumah mungil kami, kami main kucing-kucingan layaknya Tom and Jerry. Ibu kami umpetin agar ayah tidak tau keberadaannya. Sungguh trauma ibu pada ayah setinggi gunung Himalaya.
***

Penyakit asam urat yang diderita ibu semakin parah hingga membuat beliau tidak bisa jalan. Tidak hanya asam urat, beliau juga diabetes. Badannya makin hari makin kurus.

Mengingat kondisi kesehatan ibu semakin parah maka kami segera melarikannya ke rumah sakit. Aku menemani hari-hari ibu di rumah sakit, merawatnya penuh kasih.

Sudah cukup ia merasakan kepahitan dan kegetiran hidup. Bertahun-tahun ibu tidak pernah merasakan ketentraman, kenyamanan dan kehangatan dalam mengarungi biduk rumah tangga bersama ayah. Satu-satunya alasan ibu bertahan adalah demi kami anak-anaknya.

Saat dirawat di rumah sakit, ibu melarang kami untuk memberi tahu ayah, bahkan kepulangan beliau dari tanah rantaupun tak dikabarkan juga pada ayah.

***
Di ranjang rumah sakit, ibu selalu memintaku untuk membacakan yasin setiap beliau selesai shalat.

Tanggal 24 Februari 2020, pukul 15.00 WIB menjelang ashar, pelan-pelan kugenggam jemari perempuan yang telah berkorban begitu banyak untuk kami buah hatinya. Bahkan rela bertahan dengan sikap kasar dan temperamen ayah demi kami. Ibu tak ingin kami kehilangan sosok ayah, walau sebenarnya bukan ayah seperti itu yang kami inginkan.

Kubisikkan tanya yang sebenarnya aku sendiri menahan getar di tepi bibir.
"Ibu capek? Ibu ingin istrahat?" sudut mataku digenangi air. Satu kedipan, bulir air itu berjatuhan.

"Aku sudah ikhlas, bu, pergilah." Bisikku dengan nafas memburu, ada sesak yang mengganjal di tenggorokan. 'Kasihan ibu bertahun-tahun menahan sakit,' gumamku menahan gemuruh yang membuncah.

Aku kemudian menuntun ibu membaca shalawat, istigfar dan syahadat.

Pukul 21.30 sebelum aku beranjak tidur, ibu masih bernafas. Kemudian pukul 02 dini hari alarm hp berbunyi. Alarm untuk membangunkanku menunaikan qiyamul lail.

Saat dalam kamar mandi, tiba-tiba teringat ibu. Aku bergegas untuk melihatnya terlebih dahulu sebelum berwudhu.

Lututku serasa tak bertulang, seluruh tubuh gemetar, nafas serasa berdesakan melalui kerongkongan, lidah mendadak kelu dan air mataku tumpah demi melihat jasad ibu sudah terbujur kaku.

Mataku menyaksikan posisi ibu yang sepertinya benar-benar sudah siap menyambut kematiannya. Tangannya terlipat rapi, persis saat bersedekap setelah takbiratul ihram. Wajah ibu seolah berseri dan tersenyum.

''Innalillahi wa inna ilaihi rajiun," lirihku, gagu. Beliau tutup usia 64 tahun.

Tangisku tak kunjung mereda, teringat semua penderitaan ibu selama ini. Kesabaran ibu tanpa batas hingga menghembuskan nafas terakhir. Kesabaran dan keikhlasan ia balut begitu erat sampai di penghujung hayatnya.

Ibu pergi dengan luka yang begitu mendalam pada suaminya, sampai-sampai saat sakit beliau berwasiat agar kabar kematiannya suatu saat nanti jangan disampaikan pada ayah.
***

Pukul 3.30 dini hari jenazah ibu dibawa pulang. Rencana pemakaman pukul 11 siang tapi karena pak RT/RW, tetangga dan tokoh masyarakat begitu antusias membantu sehingga pukul 09.00 pagi semuanya sudah kelar. Mulai dari memandikan, menshalatkan hingga liang kuburpun telah selesai digali.

Setelah di pemakaman, para tokoh masyarakat menyarankan agar ayah ditunggu untuk jumpa dengan ibu untuk yang terakhir kalinya. Aku dan adik menyetujui.

Ditunggu, ditunggu dan ditunggu sampai duhur tapi ayah tak kunjung tiba. Kabarnya mobil yang ayah tumpangi kesasar, mutar-mutar aja di tol. Sungguh Allah menunjukkan kuasanya pada suami yang mendzolimi istri.

Akhirnya tanpa menunggu lagi, ibu dikebumikan. Mungkin inilah yang sudah digariskan Allah dan do'a ibu yang diijabah semasa hidup, tidak ingin lagi berjumpa dengan ayah walau nafas sudah diujung kerongkongan sekalipun.

Tidurlah dalam peristrahatan yang abadi ibu, semoga kelak engkau menjadi bidadari surga. Aamiin.
***
Setelah kepergian ibu, apakah ayah menyesal? Sepertinya tidak, karena sedikitpun ayah tidak bertanya padaku perihal ibu. Justru yang bertanya adalah para kerabat.

Saat aku menceritakan kondisi kesehatan serta kronologis kematian ibu, ayah malah bergeming dari depan layar kaca sembari pencat pencet remot mencari channel pavorit. Sungguh ayah berhati karang.

End.

NB:
Tidak semua tentara seperti kisah nyata di atas, beliau hanya oknum. Saripati hikmah yang bisa kita petik adalah kesabaran tak bertepi dari seorang istri mengantarnya pada ujung kehidupan yang insya Allah husnul khatimah.

Jika dunia sang ibu persit suram dan kelam, insya Allah di akhirat akan benderang oleh cahaya keikhlasan dan kesabaran yang beliau semai ketika di dunia.

**Nurbaya Tanpa Siti

Makassar, 05 Mei 2020

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213628918036036&id=1796337115

Minggu, 03 Mei 2020

LAPORAN PRATIKUM PMM-A


MATA KULIAH : PMM-A
DOSEN              : Khiki Purnawati Kasim SKM.,M.Kes


LAPORAN PRATIKUM PMM-A
Pemeriksaan Boraks Secara Kualitatif pada Bakso dan Sosis

NURWALASRIANI
PO714221181033

KEMENTERIAN KESEHATAN MAKASSAR REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI SANITASI LINGKUNGAN
2020




LAPORAN PRAKTIKUM UJI BORAKS PADA MAKANAN

A.      Pelaksanaan Praktikum

Tujuan Praktikum : Untuk mengetahui apakah ada                       kandungan boraks di dalam                             makanan yang diuji
Hari / Tanggal         : Senin, 22 april 2020
Waktu                       : 08.00 – 11.00
Tempat                     : Praktek mandiri dirumah


B.       Dasar Teori

Boraks atau dalam nama ilmiahnya dikenal sebagai sodium tetraborate decahydrate merupakan bahan pengawet yang di kenal masyarakat awam untuk mengawetkan kayu, antiseptik kayu dan pengontrol kecoa. Tampilan fisik boraks adalah berbentuk serbuk kristal putih, jika larut ke dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3). dengan demikian bahaya boraks identik dengan bahaya asam borat (Khamid, 1993).
Senyawa-senyawa asam borat ini mempunyai sifat-sifat kimia sebagai berikut : jarak lebur sekitar 1710C. Larutan dalam 18 bagian air dingin, 4 bagian air mendidih, 5 bagian gliserol 85 %, dan tidak larut dalam eter. Kelarutan dalam air bertambah dengan penambahana asam klorida, asam sitrat atau asam tartrat. Mudah menguap dengan pemanasan dan kehilangan satu molekul airnya pada suhu 10000C yang secara perlahan berubah menajdi asam metaborat (HBO2). Asam borat merupakan asam lemah dengan garam alkalinya bersifat basa, mempunyai bobot molekul61,83 berbentuk serbuk halus kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis (Khamid, 2006).
Boraks memiliki fungsi sebagai antiseptik (zat yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme). Pemakaiannya adalah dalam obat biasanya dalam salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut, bahkan juga untuk pencuci mata. Boraks juga digunakan sebagai bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu dan antiseptik kayu. Meskipun bukan pengawet makanan, boraks sering digunakan sebagai pengawet makanan. Boraks sering disalahgunakan untuk mengawetkan berbagai makanan seperti bakso, mie basah, pisang molen, siomay, lontong, ketupat dan pangsit. Selain bertujuan untuk mengawetkan, boraks juga dapat membuat tekstur makanan menjadi lebih kenyal dan memperbaiki penampilan makanan (Vepriati, 2007).
Boraks dapat memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus serta memiliki kekenyalan yang khas. Dengan kemampuan tersebut boraks sering disalahgunakan oleh para produsen makanan yaitu digunakan sebagai bahan pengawet pada makanan yang dijualnyaseperti mie basah, bakso, lontong, cilok, dan otak-otak dengan ciri-cirinya tekstur sangat kenyal, tidak lengket, dan tidak mudah, putus pada mie basah,. Namun begitu boraks merupakan bahan tumbuhan makanan yang sangat berbahaya bagi manusia karena bersifat racun.
Boraks beracun terhadap semua sel, bila tertelan boraks dapat mengakibatkan efek pada susunan syaraf pusat, ginjal dan hati. Konsentrasi tertinggi dicapai selama ekskresi. Ginjal merupakan organ paling mengalami kerusakan dibandingkan dengan orang lain. Dosis fatal untuk dewasa 15-20 g dan untuk anak-anak 3-6 g.

C.    Alat dan Bahan

  1. Alat
-  Wadah
 Tusuk gigi

  1. Bahan
Kunyit
-  Bakso
-  Sosis ayam

D.    Langkah Kerja

1.   Siapkan alat dan bahan
2.  Ambil tusuk gigi lalu tancapkan kedalam rimpang    kunyit, tunggu beberapa saat sampai warna kunyit    melekat pada tusuk gigi
3. Setelah itu, tancapkan tusuk gigi tadi kedalam sampel yang akan diperiksa.
4.  Lalu, tunggu beberapa menit. Amatilah perubahan yang terjadi. Jika terjadi perubahan warna, Makan pada makanan itu mengandung boraks  dan bandingkan dengan sampel sebelum di periksa
5.   Amati sampel dan catat hasilnya

E.     Hasil Pengamatan

BAHAN (SAMPEL)
REAKSI
KETERANGAN
Bakso
Tidak Terjadi Perubahan Warna
Tidak Mengandung Boraks
Sosis
Tidak Terjadi Perubahan Warna
Tidak Mengandung Boraks

Note     : Perubahan warna pada makanan yang mengandung boraks adalah coklat. Bila suatu makanan banyak mengandung boraks, maka warna setelah diolesi dengan kunyit akan berubah menajdi coklat yang sangat pekat, bahkan sampai berwarna coklat kemerahan.

F.    Pembahasan

Dari praktikum yang telah dilakukan, sampel bakso dan sosis menunjukkan hasil negatif karna tidak terjadinya perubahan warna pada saat melakukan pemeriksaan. Hal ini menunjukkan sampel bakso dan sosis negatif mengandung boraks sehingga aman untuk dikonsumsi. Penggunaan boraks dalam dosis rendah tidak akan menyebabkan kerusakan namun akan terakumulasi di dalam otak, hati, lemak dan ginjal. Jika terakumulasi terus akan menyebabkan mal fungsi hati dari organ-organ tersebut sehingga lambat laun akan membahayakan tubuh. Penggunaan boraks dalam dosis yang banyak mengakibatkan penurunan nafsu makan, gangguan pencernaan, demam, anuria, dan dalam jangka panjang akan menyebabkan radang kulit merangsang SPP, apatis, depresi, slanosis, pingsan kebodohan dan karsinogen, bahkan bisa menimbulkan kematian.
Pada makanan yang mengandung boraks, warna yang di hasilkan saat bereaksi tergantung banyak atau tidaknya pemakaian boraks pada pada makanan tersebut. Semakin banyak boraks yang di pakai maka reaksi tersebut warnanya semakin gelap pekat (orange-merah-coklat). Bakso lebih kenyal dibanding bakso tanpa boraks. Bila di gigit akan kembali ke bentuk semula, tahan lama atau awet beberapa hari, warnanya tampak lebih putih, bau terasa tidak alami. Ada bau yang muncul bila di lempar ke lantai akan mantul seperti bola bekel. Begitupun dengan sosis, apabila sosis mengandung boraks maka teksturnya akan lebih kenyal dan akan mengalami perubahan warna menjadi coklat. Apabila bakso dan sosis tersebut banyak mengandung boraks, maka warna yang akan terjadi setelah di olesi kunyit akan berubah menjadi coklat yang sangat pekat, bahkan sampai berwarna coklat kemerahan.
Oleh sebab itu, berdasarkan peraturan Mentri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 dilarang menggunakan boraks sebagai bahan campuran dan pengawet makanan.

G.      Kesimpulan

            Berdasarkan hasil dari pratikum yang telah dilakukan        dapat diambil kesimpulan:
1.         Sampel bakso tidak mengandung boraks (-)
2.          Sampel sosis tidak mengandung boraks (-)

H.      Saran

Dengan penelitian ini, kita dapat terbantu dalam mengetahui ada tidaknya kandungan boraks pada bakso dan sosis. Cara ini dapat di lakukan dengan mudah dan praktis karena tidak perlu di lakukan di labolaturium. Tetapi, kita dapat melakukannya di rumah. Namun setelah kami selesai melakukan penelitian atau uji coba makanan, ternyata kami tidak menemukan kandungan boraks pada makanan seperti bakso dan sosis.
Namun, kita harus teliti dalam melihat perubahan warna yang terjadi pada tusuk gigi. Terkadang, warna pada kunyit yang  lebih pekat menyusahkan kita dalam melihat perubahan setelah bereaksi.



REFRENSI

Darmin, suharmita. 2013 Laporan Uji Boraks Program Studi Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran Universitas Sultan Hasanuddin Makassar (Online) http://suharmita-darmin.blogspot.com/2014/09/laporan-pratikum-uji-boraks.html?m=1 diakses tanggal 2 mei 2020

Unknown, 2018 laporan pratikum uji boraks (online) http://kazunekazao.blogspot.com/2018/04/laporan-pratikum-uji-boraks.html?m=1 diakses tanggal 2 mei 2020


LAMPIRAN :

(Sebelum di beri ekstrak kunyit)

(Setelah di beri ekstrak kunyit dan 
Didiamkan beberapa menit)

(Pada sampel bakso Tidak terjadi perubahan warna 
Menunjukkan negatif boraks)

(Pada sampel sosis tidak terjadi perubahan warna
Menunjukkan negatif boraks)

(Untuk lebih jelasnya silahkan cek 


Terima kasih^^









































Sepenggal kisah

LUKA IBUKU SAMPAI KE LIANG KUBUR ============================== Kisah Nyata Seorang Istri Tentara. Tali ikat pinggang serta sepatu tenta...